Jumat, 27 Januari 2012

Celepuk Siau



Celepuk termasuk dalam keluarga burung yang walupun bertampang imut tetap saja diberi nama seram, burung hantu. Sifatnya yang aktif pada malam hari dan suaranya yang memicu berdirinya bulu tengkuk menyebabkan burung "lucu" ini lantas diasosiasikan dengan hantu.

 Sesungguhnya tak ada keseraman pada burung yang satu ini kecuali nasibnya yang agak-agak menakutkan karena Celepuk siau tidak lagi pernah terlihat sejak ia pertama kali dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan pada tahun 1866.
Celepuk siau (Otus siaoensis) di dunia ini diketahui hanya hidup di satu pulau kecil yang bernama Pulau Siau di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Siau yang kecil saat ini memiliki luas hutan yang sudah sangat sempit dan karena itu pulalah celepuk yang satu ini lantas dikategorikan ke dalam kategori keterancaman tertinggi, Kritis, Critically Endangered. Ukurannya yang kecil (hanya 17 cm), tempat hidupnya di sebuah pulau yang sangat terpencil dan jarang terdengar namanya, serta sifat hidupnya yang hanya aktif di malam hari, mungkin menjadi sebab kenapa celepuk yang satu ini sudah tak pernah lagi terlihat sejak ia ditemukan pertama kali 140 tahun yang lalu.
 
Hingga tahun 1995  rumah (habitat) Celepuk siau diketahui masih ada di sekitar Danau Kepetta yang terletak di bagian Selatan Pulau Siau tetapi hutan yang sudah tinggal sedikit itupun lantas ditebangi pada tahun 1998 untuk dijadikan lahan pertanian. Selain di sekitar Danau Kepetta masih ada hutan seluas 50 ha yang masih tersisa di sekitar Gunung Tamata yang berada di bagian tengah Pulau Siau dan gunung tersebut hanya bisa didatangi melalui Desa Lai yang ada di bagian Barat Pulau Siau.

Beberapa ahli burung masih berspekulasi kalau celepuk satu ini mungkin juga ada di Pulau Tagulandang yang terletak di sebelah Selatan Pulau Siau. Kalaupun ternyata benar adanya, hutan di Pulau Tagulandang juga sudah sama hancurnya dengan hutan di Pulau Siau. Kalau sampeyan berkesempatan berkunjung ke dua pulau tersebut, kesempatan untuk menjadi selebritis di dunia perburungan bisa terbuka lebar jika sampeyan bisa sampai menemukan burung yang satu ini. Tidak heran jika jenis burung yang satu ini termasuk salah satu jenis burung yang paling diincar untuk di lihat oleh para penggemar intip-intip burung di alam bebas (birdwatcher) dari seluruh dunia.

Jika sampeyan sangat berminat untuk menjadi pesohor di dunia perburungan, sebagai langkah awal menuju ketenaran adalah membuka peta Indonesia dan mencari di mana Pulau Siau itu berada. Cari pulau tempat hidupnya saja sulit apalagi nyari burungnya.   Celepuk termasuk dalam keluarga burung yang walupun bertampang imut tetap saja diberi nama seram, burung hantu. Sifatnya yang aktif pada malam hari dan suaranya yang memicu berdirinya bulu tengkuk menyebabkan burung "lucu" ini lantas diasosiasikan dengan hantu. Sesungguhnya tak ada keseraman pada burung yang satu ini kecuali nasibnya yang agak-agak menakutkan karena Celepuk siau tidak lagi pernah terlihat sejak ia pertama kali dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan pada tahun 1866.
 
Celepuk siau (Otus siaoensis) di dunia ini diketahui hanya hidup di satu pulau kecil yang bernama Pulau Siau di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Siau yang kecil saat ini memiliki luas hutan yang sudah sangat sempit dan karena itu pulalah celepuk yang satu ini lantas dikategorikan ke dalam kategori keterancaman tertinggi, Kritis, Critically Endangered. Ukurannya yang kecil (hanya 17 cm), tempat hidupnya di sebuah pulau yang sangat terpencil dan jarang terdengar namanya, serta sifat hidupnya yang hanya aktif di malam hari, mungkin menjadi sebab kenapa celepuk yang satu ini sudah tak pernah lagi terlihat sejak ia ditemukan pertama kali 140 tahun yang lalu.

Hingga tahun 1995  rumah (habitat) Celepuk siau diketahui masih ada di sekitar Danau Kepetta yang terletak di bagian Selatan Pulau Siau tetapi hutan yang sudah tinggal sedikit itupun lantas ditebangi pada tahun 1998 untuk dijadikan lahan pertanian. Selain di sekitar Danau Kepetta masih ada hutan seluas 50 ha yang masih tersisa di sekitar Gunung Tamata yang berada di bagian tengah Pulau Siau dan gunung tersebut hanya bisa didatangi melalui Desa Lai yang ada di bagian Barat Pulau Siau.
 
Beberapa ahli burung masih berspekulasi kalau celepuk satu ini mungkin juga ada di Pulau Tagulandang yang terletak di sebelah Selatan Pulau Siau. Kalaupun ternyata benar adanya, hutan di Pulau Tagulandang juga sudah sama hancurnya dengan hutan di Pulau Siau. Kalau sampeyan berkesempatan berkunjung ke dua pulau tersebut, kesempatan untuk menjadi selebritis di dunia perburungan bisa terbuka lebar jika sampeyan bisa sampai menemukan burung yang satu ini. Tidak heran jika jenis burung yang satu ini termasuk salah satu jenis burung yang paling diincar untuk di lihat oleh para penggemar intip-intip burung di alam bebas (birdwatcher) dari seluruh dunia.