Jumat, 02 Maret 2012

Elang Kelelawar ( Macheiramphus alcinus )


Berukuran sedang (45 cm). Elang dengan mulut lebar dan paruh mungil yang rapuh. Mata kuning dengan tenggorokan dan penutup mata putih, terlihat kontras dibandingkan warna bulu tubuh bagian depan maupun belakang yang hitam. Sayap panjang dan bersudut.


Suara:
Biasanya diam ketika berada jauh dari sarang. Panggilan perlahan “kek-kek-kek-...” digunakan ketika berhubungan dengan pasangannya di saat hari mulai gelap. Sebelum mulai berburu, pejantan akan mengeluarkan suara “kwik-kwik-kwik-kwik” atau “kwiep” yang diulang-ulang secara cepat dan keras. Suara lembut dan berirama “chuk-chik-chuk” dan “woot-woot-woot” digunakan untuk mengusir pendatang.

Penyebaran global:
Afrika, Asia Tenggara, dan Papua Nugini
Penyebaran lokal:
Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Kebiasaan:

Burung penetap di daerah tropis. Terutama menghuni hutan alami, hutan tanaman, dan perkebunan. Juga dapat ditemukan di daerah lain dimana kelelawar dan mangsa lain berada saat senja sampai ketinggian 2000 m, seperti: tebing di bukit kapur, sungai, danau, sampai lampu jalanan dan stasiun kereta di perkotaan.

Terbang berkeliling di sekitar sarang atau jalur terbang kelelawar saat senja hari menunggu kelelawar keluar untuk berburu. Setelah memilih calon mangsa, terbang dan bermanuver dengan cepat untuk mencengkeram mangsa dari belakang atau atas, kemudian segera menelan mangsa. Burung dan kelelawar berukuran besar akan dibawa dulu ke tenggeran untuk kemudian dimakan.


Makanan:
Terutama memakan kelelawar kecil dan walet yang bersarang di tebing dan gua. Juga memakan serangga besar dan burung lain sampai seukuran burung dara seperti: layang-layang, cabak, wiwik, dan keluarga burung passerine lainnya.


Perkembangbiakan:
Sarang berukuran 0,5-1 m yang tersusun atas cabang, ranting dan daun. Musim berbiak April-September untuk burung di Malaysia dan Sumatra. Telur 1-2 yang dierami selama 48 hari. Anakan mulai meninggalkan sarang umur 67 hari.