Minggu, 23 Oktober 2011

DERKUKU

DERKUKU

DERKUKU DAN KERABATNYA

Burung derkuku termasuk dalam kelompok besar atau famili Columbidae (merpati-merpatian). Keluarga besar merpati-merpatian ini tersebar di wilayah Asia Tenggara sampai Australia. Sampai saat ini, tercatat ada 41 spesies yang menjadi anggotanya dan 18 spesies di antaranya terdapat di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa spesies yang banyak dikenal di Indonesia.

A. Kelompok Ptilinopus (katik-katikan)
Anggota kelompok katik-katikan yang hidup di Indonesia ada sekitar 25 jenis. Burung-burung dari kelompok ini hidup di pohon-pohon rindang dan sangat susah ditangkap, apalagi dijinakkan.
Makanan burung ini berupa biji-bijian kecil. Burung ini biasanya mudah dijumpai di pohon-pohon beringin yang sedang berbuah. Bentuk fisik burung ini hampir sama dengan burung derkuku. Panjang tubuh antara 12—33 cm. Di antara anggota kelompok ini yang banyak dikenal adalah Ptilinopus melanospila (walik kembang).

B. Kelompok Macropygia (uncal-uncalan)
Di Indonesia, anggota kelompok Macropygia dikenal ada enam jenis. Salah satu di antaranya adalah Macropygia unchall (uncal, merpati hutan). Burung yang panjangnya sekitar 40 cm ini sangat liar dan penakut. Makanannya adalah biji-bijian dan buah-buahan hutan. Burung ini hidup di alam bebas secara berpasangan. Merpati hutan membangun sarang secara bersama-sama dan bertelur sebanyak dua butir. Warna dasar bulu badannya cokelat dengan bercak-bercak hitam, pada bagian kepala sampai leher berwarna cokelat polos. Di Indonesia burung merpati hutan banyak terdapat di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali.

C. Kelompok Treron (punai-punaian)
Di Indonesia kelompok Treron lebih kurang beranggotakan 13 jenis. Habitat aslinya adalah hutan dan pohon-pohon yang lebat. Sifatnya sangat liar dan penakut. Memiliki panjang badan antara 20—35 cm. Di alam bebas burung ini biasanya hidup secara berkelompok. Satu kelompok terdiri dari 7—8 ekor burung. “Vang termasuk anggota dari kelompok ini antara lain Treron capellei (punai besar), Treron bicincta (punai dada oranye), Treron olax (punai kecil), Treron curvirostra (punai paruh tebal), dan Treron griseicauda (punai manten). . :

D. Kelompok Ducula (pergam-pergaman)
Anggota kelompok Ducula tercatat ada 25 jenis yang ada di Indonesia, satu di antaranya adalah Ducula badia (pergam gunung). Burung ini memiliki suara merdu dan dalam serta berkumandang, “Khrooong, khrooong, khrooong. ” Burung pergam berukuran besar. Panjang tubuh lebih kurang 45 cm. Punggungnya berwarna cokelat kemerahan dengan ujung ekor berwarna kelabu.
Makanannya berupa buah-buahan kecil. Jenis lainnya adalah Ducula aenea (pergam hijau), Ducula bicolor (pergam putih), dan Ducula pickeringi (pergam pulau).

E. Kelompok Caloenas (junai-junaian)
Di Indonesia yang termasuk dalam anggota kelompok Caloenas hanya ada satu jenis, yakni Caloenas micobarica (dara mas). Burung yang rupanya mirip sekali dengan merpati ini hanya terdapat di Pulau Irian.

F. Kelompok Goura (mabruk-mabrukan)
Goura merupakan anggota suku merpati-merpatian yang memiliki ukuran tubuh terbesar. Ukuran panjang badannya 70 cm. Anggota kelompok Goura tercatat ada tiga jenis di Indonesia, yaitu Goura victoria, Goura cristata, dan Goura caronata. Burung-burung ini dikenal dengan sebutan dara mahkota karena di atas kepalanya terdapat bulu yang bentuknya menyerupai kipas.

G. Kelompok Columba (merpati-merpatian)
Dua jenis yang paling dikenal di Indonesia adalah Columba domestica (merpati jinak) dan Columba livia (merpati batu karang). Burung merpati ini sangat cepat berkembang biak dan banyak dipelihara di rumah-rumah penduduk. Dalam perkembangannya merpati jinak ini berkembang menjadi merpati balap, merpati hias, merpati pos, merpati kupu-kupu, dan sebagainya.

H. Kelompok Geopelia (perkutut-perkututan)
Di Indonesia kelompok Geopelia ada tiga jenis, yakni Geopelia striaia (perkutut belang), Geopelia humeralis (perkutut besar), dan (Jt’opt’lia cuneata (perkutut tutul).
Ketiga jenis anggota kelompok Geopelia ini masih dapat dibagi lagi dalam beberapa anak jenis, di antaranya Geopelia sriata striata (perkutut asli, terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok), Geopelia striata maungeus (perkutut sumba), Geopelia striata papua (perkutut irian), Geopelia humeralis humeralis (perkutut besar australia), dan Geopelia humeralis gregalis (perkutut besar irian).

I. Kelompok Streptopelia (tekukur-tekukuran)
Anggota kelompok Streptopelia yang hidup di Indonesia ada dua jenis: Streptopelia bitorguata (putar) dan Streptopelia chinensis (derkuku).

1. Streptopelia bitorquata (putar)
Burung putar (puter Jawa) ukuran panjang badannya sekitar 29 cm. Warna bulunya cokelat muda keabu-abuan. Pada tengkuknya melingkar dua buah kalung berwarna putih di atas dan hitam di bawah. Ada juga burung putar yang warna bulunya putih mulus dengan mata dan kaki berwarna merah. Burung putar seperti ini biasa disebut puter brenggolo.
Jika diubah menjadi tulisan, suara burung putar kira-kira terbaca kuu… geruuu… kook. Burung ini banyak dipelihara di rumah-mmah penduduk sejak dahulu. Sifatnya sangat mudah jinak dan akrab dengan manusia serta sangat mudah dikembangbiakkan dengan cepat. Makanannya berupa biji-bijian, seperti gabah, jagung, jewajut, dan sebagainya.

2. Streptopelia chinensis (derkuku)
Burung derkuku atau tekukur di alam bebas hidup di pohon-pohon di dekat daerah pertanian. Warna bulunya kelabu kecokelatan dan hampir merata di seluruh badannya. Pada bagian sayap terdapat bercak-bercak hitam atau bercorak hitam. Bagian leher sebelah atas dilingkari oleh gelang berwarna hitam bertotol-totol putih. Burung ini biasa mencari makanan berupa biji bijian di tanah-tanah tegalan atau persawahan yang baru selesai dipanen.
Suara burung ini sangat merdu. Pada saat bersuara, burung ini terlihat seperti mengangguk-angguk. Suara yang merdu inilah yang kemudian dilombakan. Dari lomba suara derkuku kemudian dikenal adanya istilah derkuku asli dan derkuku rekayasa.
Burung derkuku dikatakan asli apabila kedua induk, jantan maupun betina, merupakan burung Streptopelia chinensis (burung derkuku murni). Derkuku asli memiliki sifat liar dengan kualitas suara semakin baik seiring dengan bertambahnya umur. Yang dimaksud dengan derkuku rekayasa adalah burung derkuku yang salah satu moyangnya adalah Streptopelia bitorguata (burang puter).
Anakan hasil perkawinan derkuku dan puter ini disebut cuhu. Cuhu dikawinkan lagi dengan burung derkuku asli, anaknya disebut sinom. Sinom dikawinkan lagi dengan derkuku asli, demikian seterusnya. Anak hasil perkawinan silang antara sinom dan derkuku asli inilah yang disebut derkuku rekayasa.

MEMILIH DERKUKU BERKUALITAS
Tidak semua derkuku memiliki kualitas suara bagus. Untuk memilih yang bersuara bagus, ada dua hal yang bisa dijadikan pedoman: berdasarkan katuranggan dan mendengar langsung suara anggungnya. Dua hal inilah yang akan dipaparkan dalam bab ini.

A. Memilih derkuku berdasarkan katuranggan
Katuranggan adalah pengetahuan tentang bentuk tubuh. Ada suatu keyakinan bahwa bentuk kepala, leher, badan, ekor, kaki, paruh, dan sebagainya menggambarkan kualitas suara derkuku yang bersangkutan.
Bagi para penggemar derkuku tempo dulu, katuranggan memegang peranan penting, selain bunyi suara, dalam memilih derkuku bakalan untuk dijadikan derkuku kesayangan. Dengan berpegang pada pengetahuan tentang katuranggan, orang dapat meramalkan prestasi burung derkuku nantinya.
Menurut Romo Pberbosasmito, salah seorang “empu” derkuku dari Kota Gedhe Yogyakarta, ada beberapa bagian tubuh yang bisa diamati untuk menentukan kualitas suara burung derkuku. Di antaranya adalah sebagai berikut.
Apabila diperhatikan, kepala burung derkuku mempunyai bentuk bermacam-macam seperti berikut ini.

a. Njambe nom
Burung derkuku yang bentuk kepalanya njambe nom (seperti buah jambe atau pinang yang masih muda) pada umumnya mempunyai suara yang baik dan irama lagunya bagus. Bentuk kepala seperti ini diibaratkan seperti kepala Arjuna, kesatria Pandawa dalam kisah Mahabarata. Keindahan suara dan irama lagu derkuku yang berkepala seperti ini dapat bertahan sampai burung berumur tua.

b. Mbeton nangka
Yang dimaksud dengan mbeton nangka adalah bentuk kepala seperti biji buah nangka. Burung derkuku yang mempunyai bentuk kepala mbeton nangka juga mempunyai suara bagus. Hanya saja, kualitas suaranya akan menurun bila sudah tua.

c. Nggobog
Ngoobog berarti bentuk kepala burung derkuku menyerupai bentuk uang logam. Bentuknya nyaris bulat sempurna. Burung dengan bentuk kepala seperti ini pada umur pertengahan, kurang lebih 25 tahun, kualitas suara anggungnya akan mulai menurun.

d. Mbungkul bawang
Burung derkuku yang memiliki bentuk kepala mbungkul bawang (seperti bawang putih) diperkirakan mutu suaranya tidak menentu, kadang baik dan dapat juga melempem tidak ada kemajuan.

e. Nakir kuwalik
Burung derkuku yang bentuk kepalanya nakir kuwalik (takir terbalik) sulit diharapkan suara baiknya. Takir adalah tempat makanan atau sesaji, terbuat dari daun pisang berbentuk segi empat.

2. Bentuk tubuh
Jika diperhatikan, bentuk tubuh burung derkuku juga bermacam-macam, di antaranya sebagai berikut.

a. Nuntut gedhang
Derkuku dengan bentuk tubuh nuntut gedhang (seperti kuncup bunga pisang) biasanya bersuara panjang, terdengarjelas, danbaik.

b. Buah nangka
Derkuku dengan bentuk tubuh seperti buah nangka diperkirakan memiliki suara tengah agak baik.

c. Mbluluk
Derkuku dengan bentuk tubuh mbluluk (seperti buah kelapa yang masih muda) diperkirakan memiliki suara tengah cukup baik. Biasanya suara ujungnya tumpang sari (berujung suara dua kali).

d. Njagung Nglobot
Derkuku dengan bentuk tubuh njagung nglohot (seperti jagung tua yang masih terbungkus kulit) diperkirakan memiliki suara kurang baik.

e. Wungkal gerang
Derkuku dengan bentuk tubuh wungkal gerang (batu pengasah pisau yang telah aus), diperkirakan memiliki suara tidak baik.

3. Bentuk ekor
Berturut-turut dari kiri ke kanan : Bebtuk ekor nyecak atau tokek, ekor linggis, ekor kukusan, ekor medok keris, dan ekor sapu gerang.
Bentuk ekor burung derkuku juga bermacam-macam. Setiap macam diyakini bisa digunakan untuk memperkirakan kemerduan suara.

a. Nyecak atau tokek
Derkuku dengan bentuk ekor nyecak (seperti ekor cecak atau tokek, panjang lurus dan melancip) diperkirakan memiliki suara baik sekali, bersih dan mengkristal. ,

b. Linggis
Derkuku yang bentuk ekornya seperti linggis —panjang, lurus dan, agak tumpul— diperkirakan memiliki suara agak baik.

c. Kukusan
Bentuk ekor burung derkuku seperti kukusan atau kerucut —ujung meruncing, tetapi agak pendek— menandakan burung bersangkutan memiliki suara cukupan.

d. Mendok keris
Derkuku dengan ekor berbentuk pendok keris diperkirakan bersuara kurang baik.

e. Sapu gerang
Burung derkuku yang bentuk ekornya seperti sapu gerang (sapu lidi yang sudah lama dipakai) diperkirakan bersuara jelek sekali, tetapi bunyinya cukup tebal.
Parameter derkuku yang baik, menurut beberapa sumber, berdasarkan katuranggannya seperti tersebut di atas adalah sebagai berikut.
Bentuk kepala njambe nom, paruh sedang (tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek) dan lurus agak mendongak ke atas. Mempunyai leher yang panjang dengan bintik-bintik di lehernya lembut dan banyak sekali.
Tubuh berbentuk seperti tuntut gedhang agak panjang, posisi punggungnya agak membungkuk ke depan. Ekor panjang, lurus, meruncing. Pbmbawaannya tenang dengan sorot mata tajam. Pendek kata, perbandingan tubuhnya ideal atau seimbang.

B. Memilih derkuku berdasarkan suara anggungnya
Meskipun ada katuranggan, cara yang paling bijaksana dan aman untuk memilih burung derkuku bakalan ataupun yang sudah jadi adalah dengan cara mendengarkan suara anggungannya. Dengan cara mendengarkan anggungan, tidak akan terjadi salah pilih.
Apabila diperhatikan secara seksama, terdapat perbedaan suara anggung antara derkuku satu dengan derkuku yang lain. Hampir tidak ada dua derkuku yang mempunyai suara anggung yang persis sama. Namun demikian, untuk membedakan suara anggung ini, bukan suatu hal yang mudah. Apalagi bagi para penggemar pemula.
Bagi penggemar pemula atau penggemar baru, yang paling mudah adalah membedakan besar kecilnya volume (suara anggung).
Contoh:
Dekki…thiirr…kik : volume suara kecil Dekku…thuurr…kuk : volume suara sedang Degku…kuurr…gukg : volume suara besar
Jika didengar dengan seksama, suara derkuku dapat dipisahkan menjadi tiga: suara depan, suara tengah, dan suara ujung.

1. Suara depan
Suara depan ada bermacam-macam seperti berikut ini.
Dekku, dekik, dekuk, deklak, deki Tekku, dekkii, tekkuk, tekru Cekku, cekkii, cekru Derku, derki, derkii Dreku, drekki, drekkrik Terku, terkuu, terkii Cenggu, denggu, tenggu
Apabila hendak memilih, pilihlah yang suara depannya bersih atau tidak ada r-nya. Ibaratnya gamelan, suaranya utuh (kempel: Jawa), tidak pecah (ngether, Jawa).

2. Suara tengah
Apabila diperhatikan, suara tengah burang derkuku ada beberapa macam seperti berikut ini.
dinamakan tengahnya ngrioong (baik) termasuk kungkrung, ada r-nya tetapi bening termasuk kotor banyak r-nya termasuk agak bersih, masih ada r-nya ngriong, tetapi ada sedikit suara r-nya termasuk panjang dan bersih panjang, membat, dan bersih (baik sekali) panjang dan bersih ( aneh atau langka) panjang, membat, bersih (baik sekali) termasuk baik sekali, iramanya bagus panjangnya sedang dan berirama meliuk (ngukel: Jawa)
Kuuurrr
Theruuu
Theruuung
Kuuuuuuuu
Kiiuuuuuu
Koooooo
Klaaoooo
Kuuuuuuu
Kuuuung
Kenyataannya jenis suara tengah ini masih banyak sekali. Dalam praktek, saat burung derkuku sedang mendendangkan suara anggungnya, bukan hal mudah untuk menentukan termasuk jenis suara tengah yang mana burung derkuku yang sedang manggung tersebut. Diperlukan latihan yang terus-menerus dan sungguh-sungguh untuk bisa menentukan jenis suara tengah dari derkuku yang sedang manggung.

3. Suara ujung
Dengan mendengarkannya secara sungguh-sungguh, kita dapat mengatakan bahwa suara belakang atau suara ujung burung derkuku termasuk istimewa, baik, cukup, sedang, atau kurang. Bahkan, akan ditemukan juga burung derkuku yang tidak memiliki suara ujung. Derkuku seperti ini oleh beberapa kalangan disebut
kol buntet. Namun demikian, ada juga sebagian penggemar derkuku, terutama para penggemar tempo dulu, yang menyukainya. Konon derkuku kol buntet dianggap mempunyai khasiat menjauhkan penyakit dari pemiliknya dan juga menjauhkan penyakit dari binatang piaraan.
Berikut ini beberapa contoh jenis suara ujung burung derkuku yang ditulis secara berurutan dari yang kurang baik sampai yang sangat baik.
Kuk suara ujung pendek
Kuuk suara ujung sedang
Kuuuk suara ujung panjang
Kuuuuuk suara ujung panjang sekali
Kung pendek, sedikit gema
Kuung sedang dan menggema
Kuuuung panjang dan mendengung
Koooooong panjang, bulat, dan menggema
Kaaooongng panjang, membat, dan mendengung panjang
Kuuooongngng panjang, kuwung, temlawung, dan menggema panjang sekali, suaranya bening


Lebih jelasnya dapat anda lihat pada link dibawah ini :
Sumber : http://omkicau.com/hobi-lain/derkuku/