Latest Post

Ayam Ketawa

ayam ketawa 300x225 Ayam Ketawa

Ayam ketawa adalah ayam yang bisa membawa hoki bagi pemiliknya, hoki bisa ikutan ketawa dan hoki karena memang Ayam Ketawa adalah Ayam yang langka, yang tentunya jika dijual menghasilkan keuntungan yang menggiurkan.

Apakah Ayam Ketawa ini memang bisa ketawa? Ya memang , Ayam Ketawa ini memang suara kokoknya seperti layaknya suara ketawa manusia pada umumnya.

Malah kalau kita baru mendengarnya suara Ayam Ketawa ini seperti burung perkutut.

Ayam Ketawa ini berasal dari daerah Sidrap, Sulawesi Selatan. Ayam ini perawakan, warna bulu serta karakternya hampir menyerupai ayam Indonesia pada umumnya . Ayam ketawa ini dahulu dipelihara oleh bangsawan bangsawan keraton Bugis. Ayam Ketawa ini menjadi klangenan di kalangan bangsawan bangsawan tersebut.

Ayam Ketawa ini di tempat asalnya di daerah Sidrap, Sulawesi Selatan sana sering dikonteskan seni suara ketawanya. Yang menarik dalam satu kali kontes pesertanya bisa mencapai 700 sampai 800 ekor ayam. Cara penjurian nya hampir sama dengan kontes lomba burung perkutut, tapi bedanya kontes ini tidak memakai kurungan, cuman batang bambu atau kayu yang dipasang sebagai tempat berdiri Ayam ketawa ini. Ayam Ketawa yang telah menang kontes harganya bisa mencapai Rp.50juta

Ayam ketawa ini saat ini termasuk ke dalam salah satu jenis unggas yang dilindungi. Jadi untuk mendapatkannya lumayan susah. Tapi karena belum banyak diternakkan, harganya bisa melambung Dikemudian hari jika ada peternak yang menternakannya niscaya akan mendapat keuntungan berlipat ganda karena sebetulnya cara mengembang biakkannya cukup mudah, karena Ayam Ketawa ini kareakternya tidak jauh berbeda dari ayam pada umumnya, perawatan nya relatif lebih gampang, makanannya juga cukup simpel, hanya diberi fur dan rajangan sawi hijau.


Sumber:
http://www.infoternak.com/ayam-ketawa

 

Sekilas Tentang Burung pentet / cendet

Cendet atau pentet adalah jenis burung kicauan yang sedang naik daun belakangan ini. Pada dasarnya burung ini adalah termasuk jenis burung buas.
burung pentet / cendet
Apabila anda punya waktu, mungkin memelihara cendet dari kecil juga boleh dicoba. Namun apabila anda sibuk, maka saya sarankan coba untuk pelihara yang setengah jadi, yang sudah 1-2 kali mabung. Dengan kualitas yang bagus, dikombinasikan dengan master dan perawatan yang bagus, saya yakin akan tercetak cendet-cendet yang bagus pula. Dari pengalaman saya selama ini, saya sudah memelihara beberapa cendet yang saya beli dari pasar dan baru lepas trotol, ada 1-2 yang cukup bagus pula. Banyak jalan ke roma’, demikian pula dalam mencetak cendet berkualitas, banyak jalan pula, yang saya pikir cukup ‘worth to try’.
Pada dasarnya perawatan cendet amat sangat bergantung kepada kakarter bawaan dari pentet itu dan juga kebiasaan perawatan yang sudah dilakukan sebelumnya. Maka perlu sekali dicarikan informasi mengenai perawatan pentet sebelum berada di tangan kita. Memang harus diakui ada penjual yang sengaja tidak mau memberikan resep perawatan maksimum kepada kita, oleh karena itu harus dikombinasikan dengan kejelian kita dalam mengamati keseharian dari burung tsb.

Permasalahan yang sering timbul dalam perawatan burung pentet / cendet

Pentet yang kurang gacor tapi jinak
Melihat perawatan saya pikir sudah cukup ‘pakem’, dan apabila belum maksimal, mungkin perlu dilihat apakah bulu pada kondisi hampir mabung ataukah masih baru. Apabila sudah tua dan hampir mabung, mungkin itu adalah gejala mau mabung. Tetapi seandainya bulu masih ‘gres’, ada baiknya untuk mencoba memandikannya 2 hari sekali, untuk menaikkan birahinya. Kemungkinan lain, adalah bisa ditest dengan didekatkan pentet lain, apakah mau gacor berbunyi. Karena ada jenis pentet yang ‘tempur’, baru akan gacor kalau didekatkan dengan lawan. Jadi kesehariannya tidak akan terlalu banyak berkicau. Untuk burung serak, untuk recovery bisa ditambahkan larutan kaki tiga di air minumnya.
2) pentet giras
Kalau terlalu giras, jangkrik coba diturunkan porsinya, pemberian. Ulat hongkong juga coba diturunkan dulu porsinya. Kroto berikan 1 sendok makan. Memandikan sesering mungkin, karena biasanya akan menurunkan kegirasan burung tsb. Faktor giras, selain kelebihan extra fooding, barangkali juga bisa dikarenakan karena kondisi burung yang stress. Barangkali burung takut terhadap topi, sepeda bermotor, warna-warna tertentu. Ini yang harus benar2 diamati. Untuk menguji apakah burung tsb stress atau tidak, mungkin bisa ditest dengan jalan mengadunya dengan burung sejenis. Apabila dia mau normal berbunyi, berarti dia tidak stress, tapi apabila tidak berbunyi, muter-muter, mungkin anda perlu curiga bahwa burung tsb dalam kondisi stress.
3) pentet galak
Usahakan untuk lebih sering memandikannya, misalkan pagi dan sore setiap harinya, kemudian coba kerodong dibuka dulu, agar dia terbiasa dgn manusia. Usahakan juga untuk memberikan makanan (jangkrik, ulat hk dll) melalui tangan kita langsung. Nah untuk sementara kalau mau mengambil tempat makan atau minum, usahakan dengan memberikan jangkrik dulu kepada pentet tsb, jadi sementara dia makan, kita bisa lebih leluasa mengambil tempat air atau minumnya, tanpa perlu kuatir dihajar oleh pentet tsb.
Pentet galak/takut, biasanya ada 2 penyebab,yaitu trauma dan birahi.
Selama ini pentet dikenal sebagai burung pedendam,saya punya yg kalau lihat saya bukannya kabur malah galak…sampai takut sendiri lho,terlebih lagi kalau mau nambahain pakannya,tangan sampai dipatokin. Jadi hindarilah berbuat kasar pada pentet seperti mencabut bulu dll.



Sumber:
http://rezk1ardiansyah.wordpress.com

Cucak Hijau Jember
Jawaranya Cucak Hijau

Spesialis Menjual Cucak Hijau
Stok Banyak
Mulai dari bakalan sampai yang gacor
Silahkan Datang Langsung Ke Tempat Kami

Hub: Joni
0331-524 4443

Perum Pondok Gede Permai

Blok DE- 01

Jember



Jual Ayam Batik Itali, Ayam Bekisar, Ayam Ketawa Dan Ayam Hias
Ayam Serama

Ayam Jambul Polandia

Ayam Ketawa

Ayam Bekisar

Ayam Batik Itali

Hub:
Joni

03317836101
081336660132
Perum Pondok Gede Permai
Blok DE - 01

Jember

 

Bad Weather Birds


Bad winter weather here in southeastern Ohio often brings an unusual bird to the feeding station. This winter we've had a handful of uncommon birds coming into the yard to check out the feeders, probably attracted by all the noise and activity of our regular feeder visitors. A lone pine siskin has stopped by, several tree sparrows have too. But no red-breasted nuthatches, redpolls, or evening grosbeaks have appeared, sadly.

This particular visitor is one that often confuses people, and this head-on view doesn't make it any easier. It's an adult female red-winged blackbird (note the peach-colored throat). The heavy streaking might suggest a finch or siskin or even sparrow. But it's a blackbird, and a hungry one at that. After gorging on some sunflower hearts, Ms. Peachthroat took off, headed south.

It won't be long until we start seeing male red-winged blackbirds returning early to set up their territories. I always know it's truly spring when I hear their first conk-a-reeee!
 

Jangkrik Sebagai Pakan Burung Ocehan

Penyebaran jangkrik di Indonesia adalah merata, namun untuk kota-kota besar yang banyak penggemar burung dan ikan, pada awalnya sangat tergantung untuk mengkonsumsi jangkrik yang berasal dari alam, lama kelamaan dengan berkurangnya jangkrik yang ditangkap dari alam maka mulailah dicoba untuk membudidayakan jangkrik alam dengan diternakkan secara intensif dan usaha ini banyak dilakukan dikota-kota dipulau jawa.

Ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak dibudidayakan pada saat ini adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus, untuk pakan ikan dan burung. Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, dimana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek disamping itu Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang. Jangkrik segar yang sudah diketahui baik untuk pakan burung berkicau seperti poksay, kacer dan hwambie serta untuk pakan ikan, baik juga untuk pertumbuhan udang dan lele dalam bentuk tepung. sejalan dengan hal tersebut diatas jika anda ingin berternak jangrik ada beberapa tips yang bisa anda ikuti antara lain penyiapan sarana dan peralatan, pembibitan, seperti dibawah ini:
  1. Penyiapan Sarana dan PeralatanKarena jangkrik biasa melakukan kegiatan diwaktu malam hari, maka kandang jangkrik jangan diletakkan dibawah sinar matahari, jadi letakkan ditempat yang teduh dan gelap. Sebaiknya dihindarkan dari lalu lalang orang lewat terlebih lagi untuk kandang peneluran. Untuk menjaga kondisi kandang yang mendekati habitatnya, maka dinding kandang diolesi dengan lumpur sawah dan diberikan daun-daun kering seperti daun pisang, daun timbul, daun sukun dan daun-daun lainnya untuk tempat persembunyian disamping untuk menghindari dari sifat kanibalisme dari jangkrik. Dinding atas kandang bagian dalam sebaiknya dilapisi lakban keliling agar jangkrik tidak merayap naik sampai keluar kandang. Disalah satu sisi dinding kandang dibuat lubang yang ditutup kasa untuk memberikan sirkulasi udara yang baik dan untuk menjaga kelembapan kandang. Untuk ukuran kotak pemeliharaan jangkrik, tidak ada ukuran yang baku. Yang penting sesuai dengan kebutuhan untuk jumlah populasi jangkrik tiap kandang.Menurut hasil pemantauan dilapangan dan pengalaman. peternak, bentuk kandang biasanya berbentuk persegi panjang dengan ketinggian 30-50 cm, lebar 60-100 cm sedangkan panjangnya 120-200 cm. Kotak (kandang) dapat dibuat dari kayu dengan rangka kaso, namun untuk mengirit biaya, maka dinding kandang dapat dibuat dari triplek. Kandang biasanya dibuat bersusun, dan kandang paling bawah mempunyai minimal empat kaki penyangga. Untuk menghindari gangguan binatang seperti semut, tikus, cecak dan serangga lainnya, maka keempat kaki kandang dialasi mangkuk yang berisi air, minyak tanah atau juga vaseline (gemuk) yang dilumurkan ditiap kaki penyangga.
  2. Pembibitan
    1. 1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk
      Bibit yang diperlukan untuk dibesarkan haruslah yang sehat, tidak sakit, tidak cacat (sungut atau kaki patah) dan umurnya sekitar 10-20 hari. Calon induk jangkrik yang baik adalah jangkrik-jangkrik yang berasal dari tangkapan alam bebas, karena biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Kalaupun induk betina tidak dapat dari hasil tangkapan alam bebas, maka induk dapat dibeli dari peternakan. Sedangkan induk jantan diusahakan dari alam bebas, karena lebih agresif.
      Adapun ciri-ciri indukan, induk betina, dan induk jantan yang adalah sebagai berikut:

      1. Indukan:
        • sungutnya (antena) masih panjang dan lengkap.
        • kedua kaki belakangnya masih lengkap.
        • bisa melompat dengan tangkas, gesit dan kelihatan sehat.
        • badan dan bulu jangkrik berwarna hitam mengkilap.
        • pilihlah induk yang besar.
        • dangan memilih jangkrik yang mengeluarkan zat cair dari mulut dan duburnya apabila dipegang.
      2. Induk jantan:
        • selalu mengeluarkan suara mengerik.
        • permukaan sayap atau punggung kasar dan bergelombang.
        • tidak mempunyai ovipositor di ekor.
        • Induk betina:
        • tidak mengerik.
        • permukaan punggung atau sayap halus.
        • ada ovipositor dibawah ekor untuk mengeluarkan telur.
    2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
Perawatan jangkrik yang sudah dikeluarkan dari kotak penetasan berumur 10 hari harus benar-benar diperhatikan dan dikontrol makanannya, karena pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga kalau makanannya kurang, maka anakan jangkrik akan menjadi kanibal memakan anakan yang lemah. Selain itu perlu juga dikontrol kelembapan udara serta binatang pengganggu, yaitu, semut, tikus, cicak, kecoa dan laba-laba. Untuk mengurangi sifat kanibal dari jangkrik, maka makanan jangan sampai kurang. Makanan yang biasa diberikan antara lain ubi, singkong, sayuran dan dedaunan serta diberikan bergantian setiap hari.

3. Sistem Pemuliabiakan
Sampai saat ini pembiakan Jangkrik yang dikenal adalah dengan mengawinkan induk jantan dan induk betina, sedangkan untuk bertelur ada yang alami dan ada juga dengan cara caesar. Namun risiko dengan cara caesar induk betinanya besar kemungkinannya mati dan telur yang diperoleh tidak merata tuanya sehingga daya tetasnya rendah.

4. Reproduksi dan Perkawinan
Induk dapat memproduksi telur yang daya tetasnya tinggi ± 80-90 % apabila diberikan makanan yang bergizi tinggi. Setiap peternak mempunyai ramuan-ramuan yang khusus diberikan pada induk jangkrik antara lain: bekatul jagung, ketan item, tepung ikan, kuning telur bebek, kalk dan kadang-kadang ditambah dengan vitamin.
Disamping itu suasana kandang harus mirip dengan habitat alam bebas, dinding kandang diolesi tanah liat, semen putih dan lem kayu, dan diberi daun-daunan kering seperti daun pisang, daun jati, daun tebu dan serutan kayu.
Jangkrik biasanya meletakkan telurnya dipasir atau tanah. Jadi didalam kandang khusus peneluran disiapkan media pasir yang dimasukkan dipiring kecil. Perbandingan antara betina dan jantan 10 : 2, agar didapat telur yang daya tetasnya tinggi. Apabila jangkrik sudah selesai bertelur sekitar 5 hari, maka telur dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan induknya kemudian kandang bagiab dalam disemprot dengan larutan antibiotik (cotrymoxale).Selain peneluran secara alami, dapat juga dilakukan peneluran secara caesar. Akan tetapi kekurangannya ialah telur tidak merata matangnya (daya tetas).

5. Proses kelahiran
Sebelum penetasan telur sebaiknya terlebih dahulu disiapkan kandang yang permukaan dalam kandang dilapisi dengan pasir, sekam atau handuk yang lembut. Dalam satu kandang cukup dimasukkan 1-2 sendok teh telur dimana satu sendok teh telur diperkirakan berkisar antara 1.500-2.000 butir telur. Selama proses ini berlangsung warna telur akan berubah warna dari bening sampai kelihatan keruh. Kelembaban telur harus dijaga dengan menyemprot telur setiap hari dan telur harus dibulak-balik agar jangan sampai berjamur. Telur akan menetas merata sekitar 4-6 hari.



sumber:Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas


























 

Tongue-tied Tuesday

 

Surrounded by Giants


The Space Coast Birding Festival always treats book authors well. They invite us to do talks, lead field trips, and they make sure our books are available for sale in the huge vendor hall. The best thing, however, is the schedule of regular and convenient book signings in the Friends of Merritt Island NWR booth.

Phoebe and I were asked by Sandee from FOMI to do a book signing for The Young Birder's Guide. (Phoebe and her elementary school classmates helped me to create The Young Birder's Guide.)

This image, taken by our friend and festival volunteer Ray Scory, shows Phoebe diligently signing the book above her photo.

There are two things I love about this image. One, the concentration on her face and in her writing hand. And, two, the fact that she's surrounded by images of birding's field guide giants. From right to left, see if you can pick out the images and/or names of Roger Tory Peterson, David Sibley, Pete Dunne, and Kenn Kaufman.

It's always a treat to get to do a book signing. But getting to do one with the Phoebster was extra special.
 

When the Birding Gets Slow


Phoebe and I made a bunch of appearances at middle schools in north Brevard County near Titusville as part of the Space Coast Birding & Wildlife Festival. We were trying to encourage some of the students—all near Phoebe's age—to consider birding as a fun, cool thing to do. We gave a half-dozen talks and lead a half-dozen walks. And I believe we made a few new birders.

The talks all went really well (I am so proud of the Phoebster for taking to public speaking so easily) and so did most of the walks. After all, it's hard not to see lots of birds in January in Florida. But it happens...

One of the schools we visited had a fairly bad bird walk due to an almost complete lack of birds. Oh sure we had some distant pepper specks int he sky (vultures) and some flyover American robins plus a few returning purple martins, but other than that we struck out. And I gotta tell you that I can keep any group of kids interested and under control as long as there are birds to show them. Preferably perched birds that we can get the spotting scope on. Even the rowdiest bully (of which we encountered none at the schools we visited) will go "Wow! That's AWEsome!" when shown a zoomed-in look at a northern mockingbird or any other species for that matter.
We scanned in all directions. Not even a single mocker was present!


But at this school it was the doldrums of the afternoon with an approaching storm and the birds were all taking a siesta. Consequently the kids were becoming restless. After all it was Friday afternoon and this was their last class of the week. One group of boys began showing off by reenacting scenes from a war movie or video game. Girls began gathering into small groups to chat about the boys. Only a few students stuck with Phoebe and me, asking questions about birds, the book, us. The teacher began to tire of trying to keep control. I sensed my grip on the class slipping away.

That's when Mother Nature stepped in to save us. Someone screamed "AHHHH! SNAKE!!" and we watched as a tiny brown snake with a pale orange and black pattern on its back slithered into the middle of a group of 8th graders.
I'm glad it was a small, calm snake. I would've hated to try to wrestle an excaped exotic boa constrictor.

The snake quickly realized it was surrounded, so it raced into the only dark hole it could find: inside the sole of a girl's tennis show. Lucky for the snake, which one young man shyly ID'd as a juvenile corn snake, the girl remained calm while we removed her shoe.


We all got a look at the snake curled up inside the open tread of the sole. The "Cool!" and "Sweet!" and "Awesome" comments drifted through the sultry afternoon air.
Phoebe was not so sure this was fun.

After everyone got a good look, I gently removed the snake and let it go in the grass.
Trying to coax the corn snake out of the shoe sole.

We strolled back to the school, retrieved the loaner binoculars (many heartfelt thanks for the bins to Eagle Optics and The Enchanted Forest), answered a few final questions, and said our goodbyes. Phoebe and I signed a copy of "The Young Birder's Guide" for the school's library, and hit the road. I'll bet that book gets checked out a few times this spring.

We'd seen fewer than five bird species on this bird walk, but, thanks to a snake in the grass, it was still a big success.
 
 
Support : Copyright © 2011. Trend burung - All Rights Reserved