Proses perkawinan burung kenari

Burung kenari (khususnya kenari betina) yang telah memasuki masa birahi jika dikawinkan dengan kenari jantan kemungkinan besar akan menghasilkan telur dan keturunan. Umumnya, burung kenari jantan yang akan melakukan perkawinan akan mengeluarkan suara yang keras tanpa berhenti sambil bergerak mendekati kenari betina dan kepalanya dihadapkan pada kenari betina sambil digeleng-gelengkan.

Ketika mendengar suara dan gerak-gerik kenari jantan, kenari betina mengepak-ngepakkan sayap sambil merendahkan badan dengan menekuk kedua kakinya. Biasanya, sesaat kemudian akan terjadi perkawinan, yaitu kenari jantan terbang di atas kenari betina sambil mencengkeramkan jari-jari kakinya pada punggung kenari betina dan menempelkan alat kelaminnya ke arah kelamin kenari betina untuk melepaskan sperma ke dalam alat kelamin betina.

Proses perkawinan burung kenari berlangsung berulangkali sampai kenanri betina menghasilkan telur. Perkawinan burung kenari biasanya dilakukan pada pagi hari atau sore hari menjelang petang. Salah satu faktor keberhasilan penangkaran burung kenari ditentukan oleh kualitas perkawinan itu sendiri. Sebelum bertelur, kenari betina umumnya menyiapkan sarang terlebih dahulu yang dibantu oleh kenari jantan dengan cara menyusun sarang sehingga membentuk bulatan. Jika dijumpai sarang telah terbentuk dengan baik, tetapi hingga beberapa minggu tidak terjadi proses perkawinan, maka kesiapan kenari jantan perlu dikaji ulang. Jika kenari jantan yang menjadi faktor utamanya, maka harus segera diganti dengan kenari j antan lain yang lebih siap.

Pada masa-masa perkawinan ini, pemberian pakan tidak boleh telat ataupun kurang. Di samping itu, pada masa-masa perkawinan, indukan kenari tersebut juga perlu diberi makanan tambahan/pendamping berupa sayuran atau dedaunan sebagai penyegar. Menu makanan yang kerkualitas baik akan membuat kondisi indukan burung kenari tetap prima. Jika menu makanan kurang diperhatikan, maka kualitas telur yang dihasilkan kurang baik, mudah pecah (telur lunak), dan produksi telur tidak optimal, atau tidak dapat menetas jika dierami selama 13 han (mati di dalam telur).
Share this article :
 
 
Support : Copyright © 2011. Trend burung - All Rights Reserved